Airi

Jujur sampai dua puluh tahun ini Airi tidak begitu mengerti apa yang direncanakan Tuhan untuknya. Hidupnya begitu indah kala ia bayi sampai akhirnya masuk kesekolah taman kanak-kanak tak jauh dari rumahnya. Terlahir sebagai anak pertama tentu saja tak kurang kasih sayangyang diberikan kedua orang tuanya yang keduanya kebetulan berprofesi sebagai pengajar. Ayahnya mengajar disebuah sekolah dsar di desa terpencil di kotanya. Sedangkan ibunya hanya ibu rumah tangga biasa. Sejak mengandung lima bulan,ibunya dilarang oleh ayahya mengajar, padahal itulah jiwanya. Perhatian penuh diberikan padanya.

Hidupnya berlanjut lebih indah lagi ketika ia merangkak ke sekolah dasar. 6 tahun dijalaninya dengan sempurna dengan meraih peringkat pertama terus disetiap caturwulannya. Bayangkan, orang tua mana yang tidak bangga jika anaknya seperti itu. Sampai pada akhirnya ia lulus sekolah itu dengan nilai tertinggi di rayonnya.

Sekolah menengah pertama yang di impikan selama enam bulan terakhir masih menjadi trending topik dalam otaknya. kira-kira sekolah mana ya yang aka beruntung mendapatkan murid sepertiku? begitu pikirannya.

Ia membayangkan betapa PDnya memakai seragam putih berlengan panjang dipadu dengan rok biru menjuntai sampai ke mata kai hingga tak ada anggota tubuhnya yang terlihat kecuali wajah polos bermata lebar dengan hidung agak peseknya. Bertemu dengan teman baru yang pandai-pandai. Disanjung para tetangganya karena hanya dia satu-satunya warga komplek yang bisa masuk sekolah favorit dikotanya. Dan sejuta bayangan lain yang bergelantung kesana kemari tiap hari di otaknya.

Suatu pagi, ia keluar dari ruang makan setelah selesai melahap nasi goreng buatannya ibunya, memasuki ruang tengah yang sebenarnya hanya di sisinya saja. Meraih remote televisi dan menyalaknnya. Melihat acara liputan selamat pagi kesukaannya tepat pukul delapan-karena ia masih dalam libur masa sekolah. Diraihnya sebuah kertas berwarna kuning, tipis dan sepertinya sudah bekasnya dibaca. Sekejap mata yang dulunya lurus ke arah liputan pagi kini terpaut tajam pada kertas kuning itu.

formulir pendaftaran siswa baru madrasah tsanawiah…!!!!

Matanya tak bisa berhenti menuju arah judul dalam kertas itu lalu mengurutnya kebawah dan terdapat data-data lengkap tentang dirinya.

“Oh tidak!!!”
Katanya terbata tak percaya.
“Apa yang dilakukan orangtuaku”

Diluar perkiraanya, tanpa berpikir panjang ia mengambil kesimpulan bahwa orang tuanya telah mendaftarkan dirinya kesebuah sekolah–yang setahu Airi itu adalah sekolah yang baru dibangun, punya murid sedikit dan lapangannya becek persis seperti sawah kalau habis hujan.Ternyata sekolah favorit yang dalam bayangannya itu tak kan pernah ada. Tidak ada.

Dan dari sinilah konflik itu dimulai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: