Pengembangan Kurikulum

A. Prinsip-Prinsip Kurikulum PAI Tahun 2006 (KTSP)

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus.

Tujuan Pendidikan Agama Islam adalah :

1.      Menumbuhkembangkan akidah melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan, serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT

2.      Mewujudkan manusia Indonesia yang taat beragama dan berakhlak mulia yaitu manusia yang berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas, produktif, jujur, adil, etis, berdisiplin, bertoleransi (tasamuh), menjaga keharmonisan secara personal dan sosial serta mengembangkan budaya agama dalam komunitas sekolah.

Agar suatu kurkulum dapat berfungsi sebagai pedoman, maka ada sejumlah prinsip yang dianggap penting. Diantara prinsip-prinsip itu adalah

1.      Prinsip relevansi

Prinsip ini dimaksdkan agar para siswa dapat hidup sesuai dengan nilai-nilai yang ada dimasyarakatserta membekali siswa baik dalam hal pengetahuan, sikap maupun keteramplan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

2.      Prinsip Fleksibilitas

Prinsip ini artinya kurikulum harus bias dilaksanakan sesuai dengan kondisi yang ada. Kurikulum yang kaku atau tidak fleksibel akan sulit diterapkan.

3.      Prinsip kontinuitas

Prinsip ini mengandung artian bahwa perlu juga dijaga keterkatan antara materi pembelajaran pada beragai jenjang dan jenis program pendidikan.

4.      Efektifitas

Prinsip ini berkenaan dengan rencana dalam suatu kurikulum dapat dilaksanakan dan dapat dicapai dalam pelaksanaankegiatan belajar mengajar.

Dalam lingkup Kementian Agama, yang dimaksud dengan pendidikan dasar adalah Madrasah Ibtidaiyah serta pendididikan menengah adalah Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah.

Adapun standar kompetensi lulusan dalam MI, MTs, MA telah ditentukan dalam Peraturan Kementrian Agama No.2 Tahun 2008, yakni : “Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab untuk Pendidikan Dasar pada Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah, serta untuk Pendidikan Menengah pada Madrasah Aliyah.” Sedangkan standar isi juga telah di atur dalam poin selanjutnya pada Peraturan Kementrian Agama No.2 Tahun 2008:  “Standar Isi Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab untuk Pendidikan Dasar pada Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah, serta untuk Pendidikan Menengah pada Madrasah Aliyah meliputi struktur mata pelajaran Pendidikan Agama  Islam dan Bahasa Arab, lingkup materi minimal, dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai kompetensi lulusan minimal.”[1]

 

B. Menyusun Silabus Berdasarkan Kurikulum PAI Tahun 2006 (KTSP)

1. Pengertian silabus

Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu kelompok mata pelajaran dengan tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pembelajaran, indikator , penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar yang dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan. Dalam KTSP silabus merupakan penjabaran dari standar konpetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indicator untuk pemilaian hasil belajar.[2]

2. Prinsip Pengembangan Silabus

Berikut akan dipaparkan tentang prinsip-prinsip pengembangan silabus, yakni mencakup aspek ilmiah, relevan, sistematis, konsisten, memedai, aktual dan kontekstual, fleksibel, menyeluruh dan efesien.[3]

a.       Ilmiah

Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan.

b.      Relevan

Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spritual peserta didik.

c.       Sistematis

Komponen-komponen silabus  saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi.

d.      Konsisten

Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok/pembelajaran, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian.

e.       Memadai

Cakupan indikator, materi pokok/pembelajaran, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.

f.       Actual dan konstektual

Cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi.

g.      Fleksibel

Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat.

h.      Menyeluruh

Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afektif, psikomotor).

i.        Efisien

Adapun yang dimaksud dengan efesien dalam silabus berkaitan dengan upaya untuk memperkecil atau menghemat penggunaan dana, daya dan waktu tanpa mengurangi kompetensi dasar yang telah ditentukan.[4] Efesien dalam silabus bisa dilihat dengan cara membendingkan antara biaya, tenaga dan waktu yang digunakan untuk pembelajaran dengan hasil  yang dicapai yang dapat dibentuk oleh peserta didik. Dengan demikian setiap guru dituntut untuk dapat mengembangnan silaabus dan perencanaan pembelajaran seefektif atau sehemat mungin dengan tanpa mengurangi kualitas pencapaian dan pembentukan kompetensi.

3. Tugas dan Tanggungjawab Pengembangan Silabus

Seperti yang telah dikemukakan diatas bahwa silabus merupakan kerangka inti yang menyangkut komponen utamauntuk menjawab permasalahan sebgaiberikut:

1.      Kompetensi apakah yang akan ditanamkan kepada peserta idik melalui suatu kegiatan pembelajaran.

2.      Kegiatan apakah yang harus dilakukan untuk menanamkan dan membentuk kompetensi tersebut.

3.      Upaya apakah yang harus dilakukan untuk mengetahui bahwa kompetensi tersebut sudah dimiliki oleh peserta didik.

Pengembangan silabus disini melibatkan berbagai pihak, seperti Badan penelitian dan Pengembangan Depdiknas, Badan Standart Nasional  Pendidikan, Dinas Pendidikan Provinsi, Dinas Pendidikan Kota dan Kabupaten, serta satuan pendidikan yang akan mengimplementasikan kurikulum sesuai dengan kapasitas dan bagiannya masing-masing.[5]

Adapun secara singkat tugas dan tanggungjawab tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

A.    Depdiknas

a.       Menyiapkan peraturan

b.      Menetapkan standar nasional

c.       Mengembangkan contoh

d.      Menyediakan dana

B.     Dinas Pendidikan propinsi

a.       Menyesuaikanbuku teks

b.      Membuat contoh

c.       Memberi kemudahan dan dukungan

d.      Menyiapkan dana

e.       Menyesuaikan aturan-aturan

C.     Dinas Pendidikan Kotadan Kabupaten

a.       Membentuk tim pengembang

b.      Mengembangkan rambu-rambu

c.       Mengalokasikan anggaran

d.      Memfasilitasi sekolah

D.    Satuan pendidikan/sekolah

a.       Membentuk tim (MGMP, KKG)

b.      Mengembangkan program (KTSP, silabus, dan RPP)

c.       Membentuk komite sekolah

d.      Menetapkan tim rekayasa kurikulum

e.       Menetapkan layanan administrasi

4. Prosedur pengembangan silabus[6]

Secara garisbesar pengembangan silabus KTSP mencakup langkah-langkah sebagai berikut:

a.       Mengkaji Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

Mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran sebagaimana tercantum pada Standar Isi, dengan  memperhatikan hal-hal berikut:

1)      urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan materi, tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada di standar isi.

2)      keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran.

3)      keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar antarmata pelajaran.

b.      Mengidentifikasi Materi Pokok/Pembelajaran

Mengidentifikasi materi pokok/pembelajaran yang menunjang pencapaian kompetensi dasar dengan mempertimbangkan:

1)      potensi peserta didik

2)      relevansi dengan karakteristik daerah

3)      tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta didik

4)      kebermanfaatan bagi peserta didik

5)      struktur keilmuan

6)      aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran

7)      relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan

8)      alokasi waktu.

c.       Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran

Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antarpeserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan,  dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar.  Pengalaman belajar yang dimaksud dapat terwujud melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi. Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang perludikuasaioleh peserta didik.

d.      Merumuskan indikator pencapaian

Indikator merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.  Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.

e.       Menentukan standar penilaian

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian.

1)      Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi.

2)      Penilaian menggunakan acuan kriteria

3)      Sistem yang direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan.

4)      Sesuai dengan pengalaman belajar yang ditempuh dalam kegiatan belajar.

f.       Alokasi waktu

Alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar dilakukan dengan memperhatikan jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran perminggu dengan mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan tingkat kepentingan.

g.      Menentukan sumber belajar

Sumber belajar adalah rujukan, objek dan bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran. Sumber belajar dapat berupa media cetak dan elektronik, nara sumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya.

h.      Format silabus berbasis KTSP

Adapun format silabus berbasis KTSP minimal mencakup  standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, materi standar,standar penilaian.

Format tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

FORMAT SILABUS KTSP

Satuan Pendidikan      :…………………………………………………………

Mata pelajaran             :…………………………………………………………

Kelas/semester            :…………………………………………………………

Alokasi waktu             :…………………………………………………………

Standar  kompetensi Kompetensi dasar Indikator Materi Pembelajaran Standar proses Penilaian
           

Contoh silabus

SILABUS

Nama Madrasah : MTsN Pemalang

Mata Pelajaran : Sejarah Kebudayaan Islam

Kelas / Semester : VIII / I

Standar

Kompetensi

Kompetensi

Dasar

Indikator Materi Pokok Pengalaman

Pembelajaran

Penilaian Sumber Belajar Alokasi

Waktu

1. Memahami perkembangan Islam pada masa Bani Abbsiyah. 1.1. Menceritakan sejarah berdirinya Daulah Abbasiyah. 1.1.1. Menjelaskan sebab-sebab runtuhnya Dinasti Umayyah.

1.1.2. Mengemukakan latar belakang terbentuknya Dinasti Umayyah.

Sejarah berdirinya Daulah Abbasiyah. 1. Membaca buku tentang sebab-sebab keruntuhan Dinasti Umayyah.

2. Mendiskusikan latar belakang berdirinya Dinasti Abbasiyah.

Tes tertulis, Lisan, Tes

Pengamatan.

Buku SKI, Ensiklopedi Islam. 6 x 40

Menit

 

C. Prinsip Pembelajaran Berdasarkan Kurikulum PAI Tahun 2006 (KTSP)

Pelaksanaan pembelajaran kurikulum tingkat satuan pendidikan, sedikitnya harus memperhatikan tujuh prinsip sebagai berikut:

1.      Pelaksanaan kurikulum didasarkan pada potensi perkembangan dan kondisi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagidirinya. Dalam hal ini peserta didik harus mendapatkan pelayanan pendidikan yang bermutu, serta memperoleh kesempatan untuk mengeksresikan dirinya secara bebas, dinamis dan menyenangkan.

2.      Kurikulum dilaksanakan dengan menegakkan kelima pilar belajar, yaitu: (a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, (b) belajar untuk memahami dan menghayati, (c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif, (d) belajar untuk hidup bersama dan beguna bagi orang lain, (e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri, melalui proses pembelajran yang efektif, aktif, kreatif, dan menyenagkan.

3.      Pelaksanaan kurikulum memungkinkan peserta didik mendapatkan pelayanan yang bersifat perbaikan, pengayaan, dan/percepatan sesuai dengan potensi, tahap perkembangan, dan kondisi peserta didik dengan tetap memperhatikan keterpaduan pengembangan pribadi peserta didik yang berdimensi keTuhanan, keindividuan, kesosialan, dan moral.

4.      Kurikulum dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik dan pendidik yang saling menerima dan menghargai, akrab, terbuka dan hangat dengan prinsip tut wuri handayani, ing madia mangun karsa, ing ngarsa sung tulada (di belakang memberikan daya dan kekuatan, ditengah membangun semnagat dan prakarsa, di depan memberikan memberikan contoh dan teladan).

5.      Kurikulum dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan multistrategi dan multimedia, sumber belajar dan teknologi yang memadai, dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar.

6.      Kurikulum dilaksanakan dengan mendayagunakan kondisi alam, sosial, dan budaya serta kekayaan daerah untuk keberhasilan pendidikan dengan muatan seluruh bahan kajian secara optimal.

7.      Kurikulum yang mencakup seluruh komponen kompetensi mata pelajaran, muatan lokal dan pengembangan diri diselenggarakan dalam keseimbangan, keterkaitan, dan kesinambungan yang cocok dan memadai antar kelas dan jenis serta jenjang pendidikan.[7]

Ketujuh prinsip diatas harus oleh para pelaksana kurikukum (guru), dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, baik menyangkut perencanaan, pelaksanaan, maupun evaluasi.

 

D. Sistem Prinsip Penilaian Berdasarkan Kurikulum PAI Tahun 2006 (KTSP)

  • Sistem Penilaian hasil belajar dalam KTSP dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:

1.      Penilaian Kelas

Penilaian kelas dilakukan dengan ulangan harian, ulangan umum dan ujian akhir.

Ulangan harian dilakukan setiap selesai proses pembalajaran dalam kompetensi dasar tertentu. Ulangan harian ini terdiri dari seperangkat soal yang harus dijawab oleh para peserta didik, dan tugas-tugas terstruktur yang beerkaitan dengan konsep yang sedang dibahas. Ulangan harian minimal dilakukan tiga kali dalam setiap semester. Ulangan harian ini terutama ditujukan untuk memperbaiki program pembelajaran, tetapi tidak menutup kemungkinan digunakan untuk tujuan-tujuan lain, misalnya sebagai bahan pertimbangan dalam memberikan nilai para peserta didik.

Ulanagan umum dilaksanakan setiap akhir semester, dengan bahan yang diujikan sebagai berikut:

a.       Ulangan umum semester pertama soalnya diambil dari materi semester pertama.

b.      Ulangan umum semester kedua soalnya merupakan gabungan dari materi semester pertama dan kedua, dengan penekanan pada materi semester kedua.

Ulangan umum dilaksanakan secara bersama untuk kelas-kelas paralel, dan pada umumnya dilakukan ulangan umum bersama, baik tingkat rayon, kecamatan, kodya/kabupaten maupun provinsi. Hal ini dilakukan terutama dimahsudkan untuk meningkatkan pemerataan mutu pendidikan dan untuk menjaga keakuratan soal-soal yang diujikan. Disamping untuk menghemat tenaga dan biaya, pengembangan soal bisa dilakukan oleh bang soal, dan bisa digunakan berulang-ulang selama soal tersebut masih layak digunakan.

Ujian akhir dilakukan pada akhir program pendidikan. Bahan-bahan yang diujikan meliputi seluruh komponen dasar yang telah diberikan, dengan penekana pada komeptensi dasar yang dibahas pada kelas-kelas tinggi. Hasil evaluasi pada ujian akhir ini terutama digunakan ntuk menentukan kelulusan bagi setiap peserta didik, dan layak atau tidaknya untuk melanjutkan pada pendidikan tingkat atasnya.

Penilaian kelas dilakukan oleh guru untuk mengetahuai kemajuan dan hasil belajar peserta didik, mendiagnos kesulitan belajar, memberikan umpan balik untuk perbaikan proses pembelajaran, dan penentuan kenaikan kelas.

2.      Tes Kemampuan Dasar

Tes kemampuan dasar dilakukan untuk mengetahui kemampuan membaca, menulis, dan berhitung yang diperlukan dalam rang ka memperbaiki program pembelajan (program remidial). Tes kemampuan dasar dilakukan pada setiap tahun akhir kelas III.

3.      Penilain Akhir Satuan Pendidikan dan Sertifikasi

Pada setip akhir semester dan tahun pelajaran diselenggarakan kegiatan penilain guna mendapatkan gambaran secara utuh dan menyeluruh mengenai ketuntasan belajar peserta didik dalam satuan waktu tertentu, untuk keperluan sertifikasi, kinerja, dan hasil belajar yang dicantumkan dalam surat tanda tamat belajar tidak semata-mata dadasarkan atas hasil penilain pada akhir jenjang sekolah.

4.      Benchmarking

Benchmarking merupakan suatu standar untuk mengukur kinerja yang sedang berjalan, proses dan hasil untuk mencapai suatu keunggulan yang memuaskan. Ukuran keunggulan dapat ditentukan di tingkat sekolah, daerah, atau nasional. Penilaian dilaksankan secara berkesinambungan sehingga peserta didik dapat mencapai satuan tahap keunggulan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan usaha dan keuletannya.

Untuk dapat memperoleh data dan informasi tentang pencapaian benchmarking tertentu dapat diadakan penilain secara nasional yang dilaksanakan pada akhir satuan pendidikan. Hasil penilaian tersebut dapat dipakai untuk melihat keberhasilan kurikulum dan pendidikan secara keseluruhan, dan dapat digunakan untuk memberikan peringkat kelas, tetapi tidak untuk memberikan nilai peserta didik. Hal ini dimahsudkan sebagai salah satu dasar untuk pembinaan guru dan kinerja sekolah.

5.      Penilain program

Penilain program dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional dan Dinas Pendidikan secara kontinu dan berkesinambungan. Penilain program dilakukan untuk mengetahui kesesuaian KTSP dengan dasar, fungsin dan tujuan pendidikan nasional, serta kesesuaiannya dengan tuntutan perkembangan masyrakat, dan kemajuan jaman.[8]

  • Prinsip Penilaian kurikulum 2006 atau KTSP
  1. Motivasi

Penilaian diarahkan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa melalui upaya pemahaman akan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki baik oleh guru maupun oleh siswa. Dengan demikian penilaian tidak semata-mata untuk memberikan angka sebagai sebagai hasil dari proses pengukuran, tapi apa arti angka yang telah dicapai itu. Siswa perlu memahami makna dari hasil penilaian. Dengan pemahaman ini diharapkan mereka lebih termotivasi dalam melaksanakan proses pembelajaran.

  1. Validalitas

Penilaian diarahkan bukan semata-mata untuk melengkapi syarat administratif saja, akan tetapi diarahkan untuk memperoleh informasi tentang ketercapaian kompetensi seperti apa yang terumuskan dalam kurikulum. Oleh sebab itu, penilaian tidak menyimpang dari kompetensi yang ingin dicapai. Dengan kata lain penilaian harus menjamin validalitas.

  1. Adil

Setiap siswa memiliki kesempatan yang sama dalam proses pembelajran tanpa memandang perbedaan sosial ekonomi, latar belakang budaya dan kemampuan. Oleh karena itulah, mereka juga memiliki kesempatan yang sama untuk dievaluasi. Penilaian menempatkan possisii siswa dalam kesejajaran, dengan demikian setiap siswa akan memeperoleh perlakuan yang sama.

  1. Terbuka

Alat penilaian yang baik adalah alat penilaian yang dipahami baik oleh penilai maupun oleh yang dinilai.

Siswa perlu memahami jenis atau prosedur penilaian yang akan dilakukan beserta kriteria penilaian. Keterbukaan ini bukan hanya akan mendorong siswa untuk memperoleh hasil yang baik sehingga motivasi belajar mereka akan bertambah juga, akan tetapi sekaligus mereka memahami posisi mereka sendiri dalam pencapaian kompetensi.

  1. Berkesinambungan

Penilaian hakikatnya merupakan bagian integral dari proses pembelajaran. Oleh karena itu, penilaian dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan.

  1. Bermakna

Penilaian harus tersusun dan terarah, sehingga hasilnya benar-benar memberikan makna kepada semua pihak khususnya kepada siswa itu sendiri.  \melelui penilaian ini siswa akan mengetahhui posisi mereka dalam perolehan kompetensi.

  1. Menyeluruh

Penilaian harus memberikan informasi secara utuh tentang perkembangan setiap aspek, baik kognitif, afektif dan psikomiotorik.

  1. Edukatif

Hasil penilaian tidak semata-mata diarahkan untuk memperoleh gambara kemampuan siswa dalam pencapaian kompetensi melalui angka yang diperoleh, akan tetapi hasil penilaian harus memberikan umpan balik untuk memperbaiki proses pembelajaran baik yang dilakukan oleh guru maupun siswa, sehingga hasil belajar akan lebih optimal. Dengan demikian, proses penilain tidak semata-mata tanggung jawab guru akan tetapi juga merupakan tanggung jawab siswa. Artinya siswa harus ikut terlibat dalam proses penilaian, sehingga mereka menyadari bahwa


[1] Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor  2 tahun 2008

[2] Enco Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, (2006, Bandung:  PT.Remaja Rosdakarya), hal 190

[4] Enco Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, hal 195

[5] Enco Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, hal 202

[6] Enco Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, 203

[7] Enco Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, hal. 249

[8] Enco Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, hal. 261

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: